Catatanku...

28 July 2008


Wisata Waduk Cengklik (WWC)


Hari Selasa (13 Mei) saya di undang oleh PC IMM Surakarta untuk menjadi “narasumber” mengenai beberapa mekanisme dan persoalan organisasi. Cukup dadak sebenarnya karena saya baru diundang pada malam harinya (malam selasa) tapi apa boleh buat maka pagi-pagi sekali saya siapkan beberapa hal yang diperlu, sampai-sampai habis subuh harus browsing di warnet dulu cari bahan yang di perlukan seperti SK PP Muhammadiyah tentang beberapa hal (belum punya).

Di rasa perlengkapan sudah siap dan cukup (maklum memang ada rencana menginap) maka saya pun berangkat menuju Surakarta, jam menunjukkan sekitar 10.00 WIB. Tidak seperti biasanya kali ini bus datang tepat saat saya sampai di peterongan, gak pakai lama saya pun naik. Tapi merasa aneh ketika sampai di dalam bus, tidak ada penumpang sama sekali jadi saya penumpang pertama pikirku. Di perjalanan bus mulai mendapat penumpang meski begitu tak banyak memang masih bisa di hitung dengan hitungan jari. Perasaanku gak enak, apa dia (supir) gak rugi hanya mendapat penumpang segini (pikirku) maklum karena sudah masuk Kab. Boyolali, ternyata dugaanku benar rombongan bus kami di “oper” ke bus lain. “Ah, menyebalkan” gerutuku. Tapi mau gimana lagi, tambah malas karena di bus yang lain ini sudah penuh tapi alhamdulillah masih ada tempat 2 duduk yang kosong setelah di tunjukkan kundektur.

Akhirnya sampai di Surakarta, menuju tempat acara di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surakarta (Jl. Teuku Umar no. 5), acara dimulai bada ashar sampai isya’. Habis isya’ teman2 Pimpinan Cabang masih melanjutkan dengan pleno mengundang teman Komisariat, maklum mau Musyawarah Cabang. Sedangkan saya pamit sekaligus mau ada agenda lain yaitu melihat ”book fair” diajak IMMawati Henis dan IMMawati Doni. Maklum karena malam itu malam terakhir jadi sangat pantas jika ramai. Akhirnya setelah tengak-tengok kanan-kiri di berbagai stand pulang mendapat tiga buku lumayan harganya lima ribuan. Sudah cukup malam saya putuskan istirahat di kost kakak yang tak jauh dari kampus UMS.

Paginya (rabu pagi) baru sekitar jam 05.45 WIB ada SMS masuk dari IMMawati henis dan Doni isinya ngajak jalan-jalan pagi, karena memang mau pulang rada siang tak ada salahnya pikirku, kami pun berangkat. Tak tahu mau kemana saya pun tinggal ngikut aja. Bersepeda motor melewati bentang alam yang indah di kanan-kiri dan merasakan sejuknya udara sangat menyenangkan memang. Suasana yang selalu kuidamkan, hidup terasa tenang dan damai. Setelah menikmati perjalanan yang cukup lumayan akhirnya kami sampai di Waduk Cengklik. Aneh dan baru mendengar waduk ini pertama yang terlintas dalam pikiranku.Tapi memang sayanya saja yang belum tahu. Sempat saya kira waduk ini buatan pemerintah Orde Baru sehingga sempat terlontar “Berapa penduduk yang harus bedol desa hanya untuk membangun ini?”, Maklum berkaca pada kasus Waduk Kedungombo yang secara administrasi meliputi tiga kecamatan dari dua kabupaten mengharuskan warganya untuk bedol desa secara paksa gaya pemerintahan Orde baru waktu itu. Masyarakat semua desa diikutkan program transmigrasi dalam upayanya pemerataan penduduk oleh pemerintah. Berikut ini adalah sedikit informasi mengenai waduk Cengklik sebagai berikut:

Waduk Cengklik adalah salah satu obyek wisata yang dimiliki Kabupaten Boyolali. Terletak secara administrasi di Desa Ngargorejo & Sobokerto Kec. Ngemplak Obyek wisata ini terletak di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak ± 20 km, kearah timur laut Kota Boyolali, waduk dengan luas genangan 300 ha ini dibangun pada jaman kolonial Belanda, tujuannya untuk mengairi lahan sawah seluas 1.578 ha di sekitar Kab. Boyolali pada saat ini banyak masyarakat sekitar yang memanfaatkan untuk budidaya ikan lewat keramba dan salah satu tempat favorit pemancingan, bisa juga untuk latihan sky air. Letaknya sangat strategis, berdekatan dengan Bandara Adi Sumarmo, Asrama Haji Donohudan, Monumen POPDA, dan Lapangan Golf. Fasilitas: Wisata Air/ Water Resort, Pemancingan/ Fishing Area, Rumah Makan Lesehan/ Floating Restaurant. Dengan potensi yang dimiliki itu maka perlu kiranya pemerintah Kab. Boyolali menggarap serius obyek wisata ini, sehingga permasalahan seperti adanya pendangkalan (sedimentasi) yang cukup besar dan minimnya sarana dan prasarana di sekitar obyek wisata bisa di atasi atau di minimalisir, bahkan jika perlu diadakan atraksi yang variatif sehingga obyek wisata ini lebih menarik dan dikunjungi pengunjung.

Setelah cukup puas melihat dan tak lupa mengabadikan diri (foto:narsis) pada sudut-sudut waduk kami pun pulang karena matahari semakin tinggi. Dan menutup perjalanan pagi itu dengan mencicipi kuliner berupa soto kerbau dan teh hangat di pinggir sawah, sangat nikmat rasanya. Semoga terulang dengan kondisi yang berbeda. Billahifiisabilhaq Fastabikhulkhairat. wasalam.

Memorial lepas,
14 Mei ‘08

2 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home