Catatanku...

29 October 2007


Al-Idrisi*
(Seorang Geografer Muslim)



Pada masa perkembangan ilmu di dunia Islam banyak cabang-cabang ilmu yang berkembang sangat pesat dan maju dengan digawangi oleh tokoh-tokoh cendekiawan muslim seperti ibnu Sina, Al Istakhri, Al Mas’udi, Ibnu Khaldun dan Ibnu Batuta. Banyak hasil-hasil karya dari cendekiawan muslim yang menjadi rujukan bagi para ilmuan selanjutnya (yunani dan romawi) dan para ilmuan barat.

Geografi sebagai salah satu ilmu tertua di dunia, dalam perkembangan sejarah ilmunya selalu diidentikkan dengan para tokoh yunani, romawi pada masa lalu dan era kontemporer (renaisance) Italia, Jerman dan Belanda. Nama-nama tokoh geografi seperti Thales (624-548 SM), Aristarchus (310-230 SM), Hipparchus (161-126 SM), Claudius Ptolomaeus (87-150 SM), Eratosthenes (276-196 SM), Strabo (66 SM-24 M) sampai Copernicus (1473-1543), Bernard Vahren, Humboldt dan Ritter. Tentunya masih banyak lagi.

Dari sekian banyak tokoh-tokoh geografi tersebut, sangat sedikit menerangkan dan memperkenalkan tokoh islam yang ahli dalam geografi. Pada hal banyak jasa yang telah dilakukan untuk dunia ilmu pengetahuan umumnya dan geografi pada khususnya. Al-Idrisi adalah salah satu tokoh islam yang ahli dalam ilmu geografi. Dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abdullah Ibn Idris Ash-Sharif atau sering dikenal Al Idrisi. Beberapa sumber menyatakan bahwa beliau lahir di Sabtah, yang saat itu bagian dari kerajaan Almoravid (saat ini negara Spanyol) dan kemungkinan wafat di Sisilia atau Sabtah. Namun ada yang berpendapat pula beliau lahir di Ceuta, Spanyol tahun 1099 masehi.

Al Idrisi menempuh pendidikannya di Cordova. Beliau suka bepergian ke tempat-tempat yang jauh, termasuk Eropa, untuk mengumpulkan data geografi. Seperti kebanyakan geografer muslim di masa Al Idris, telah mampu membuat ukuran permukaan bumi yang akurat. Ketika itu beberapa peta dunia juga telah dibuat, namun tak sesempurna buatan Idrisi. Dari bahan-bahan yang telah dikumpulkannya Al Idrisi mengkombinasikan sendiri temuan-temuannya menjadi sebuah pengetahuan baru. Karyanya banyak menyajikan data komprehensif dari setiap wilayah di dunia. Saat itu Al Idrisi menjadi sangat dikenal dan mulai dilirik oleh kalangan navigator laut Eropa serta kalangan militer.

Karena kekondangannya itu nama Al Idrisi dan kompetensinya di bidang geografi, Raja Roger II, raja Norman dari Sicilia mengundang dan memfasilitasi Al Idrisi untuk membuat peta dunia pada saat itu. Al Idrisi menyanggupi. Peta pesanan sang raja itu diwujudkan Al Idrisi kedalam bentuk bola dunia (globe) seberat 400 kilogram, yang secara cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan sungai, kota-kota besar, dataran serta pegunungan. Al Idrisi memasukkan pula beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggian secara tepat. Bola dunianya itu, oleh Al Idrisi sengaja dilengkapi pula dengan Kitab Al-Rujari (Roger's Book). Karena demikian besar jasanya dalam geografi dan kartografi pula Al Idrisi diangkat sebagai penasehat dan pengajar di Istana raja Roger II pada tahun 1154.

Samping itu Al Idris juga meninggalkan karya-karyanya yang sangat berguna, antara lain pada tahun 1161 buku berjudul Taman Kemanusiaan dan Hiburan Jiwa, tahun 1192 diterbitkan kembali dengan judul Taman Kegembiraan sering disebut sebagai Little Idrise, Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq (Kesenangan untuk Orang-orang yang Ingin Mengadakan Perjalanan Menembus Berbagai Iklim) yang menjadi sebuah ensiklopedi yang berisi peta secara detil dan informasi lengkap negara-negara Eropa pada saat itu, Rawd-Unnas wa-Nuzhat al-Nafs (Kenikmatan Lelaki dan Kesenangan Jiwa) yang merupakan kompilasi ensiklopedi yang lebih komperhensif dari sebelumnya.

Dan yang paling menakjubkan adalah Al-Idrisi pula yang pertama kali memperkenalkan teknik pemetaan dengan metode proyeksi; suatu metode yang baru dikembangkan oleh ilmuwan Barat, Mercator, empat abad kemudian.

Beberapa karyanya telah dialih bahasakan kedalam bahasa latin. Dan selama beberapa abad kemudian menjadi buku yang sangat popular di daratan Eropa. Salah satu bukunya yang telah diterjemahkan, diterbitkan di Roma pada tahun 1619. Terjemahan itu dibuat dalam bentuk kecil, dan sang penerjemah ternyata tak memberi penghargaan kepada Idris. Namanya tidak dicantumkan dalam buku itu. Kasus ini sangat menarik karena sebelumnya orang-orang Eropa butuh beberapa abad untuk membuat bola dunia dan peta dunia sendiri. Sebab Christopher Columbus sendiri menggunakan peta asli yang dibuat oleh Al Idris.

Al Idris meninggal dunia sekitar tahun 1166. Karena jasanya yang besar dalam geografi dan kartografi wajar saja akhir-akhir ini namanya (Idrisi) diabadikan untuk nama perangkat lunak yang dikembangkan Universitas Clark di Worcester (Amerika Serikat) untuk alat bantu analisa geografi, citra digital, kartografi, dan sistem informsi geografis.

* oleh Akhirudin Subkhi, mahasiswa jurusan Geografi FIS UNNES, SekBid. Organisasi DPD IMM Jawa Tengah.


2 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home